Kita Adalah Penentu Masa Depan dan Kebahagian di Hari Tua

2 Feb 2017

 

      Saya adalah seorang suami dan ayah bagi satu orang anak saya yang masih berusia 4 tahun. Saya bekerja di kota Jakarta sebagai karyawan di perusahaan swasta, sedangkan istri beserta anak saya berada di  kota Majalengka, Jawa Barat, itu menjadikan kami terpisah 200 km jauhnya. Keadaan ini tentunya sangat ‘menyiksa’ bagi saya, di saat anak saya tumbuh, melakukan hal-hal baru bagi anak seusianya, bertingkah lucu, dan bertambah pintar tetapi saya tidak dapat menyaksikan, serta merasakan semuanya itu secara langsung. Saya hanya bisa melihat melalui kiriman foto, video, dan mendengar dari rekaman suaranya.

 

 

      Jalan ini sebetulnya sudah saya dan istri saya pikirkan sebelumya. Kami sudah mempersiapkan situasi seperti ini, akan tetapi menjalaninya ternyata lebih berat daripada saat kami membicarakannya.  Meskipun begitu saya tetap berusaha menjalani pilihan cara hidup kami seperti, semua saya lakukan semata hanya untuk masa depan anak saya, Andrea. Setiap bulan saya usahakan untuk pulang kampung bertemu dengan keluarga. Saat Andrea berumur 2 tahun, mungkin baginya pergantian dari bulan ke bulan terasa cepat sekali, seperti hari kemarin, hari ini, dan besok. Tetapi sekarang berbeda.

“Ayah kok lama banget  Bu, pulangnya? Kakak udah kangen.”

 

            Seperti itu dia mengungkapkan rasa rindunya saat saya tidak bersama. Biasanya jika saya pulang, kami selalu menghabiskan waktu bersama dari matahari terbit hinggga berganti malam. Tempat bermain kesukaannya adalah taman bermain yang memiliki prosotan (begitu ia menamainya) dan ayunan. Kadang kami bertingkah seolah sedang ada di dalam situs video Youtube seperti posting-an video anak-anak dari luar negri yang bermain di wahana permainan, yang sering ditonton oleh Andrea di tablet ibunya. Berat sekali rasanya saat saya harus kembali ke ibu kota untuk mencari nafkah. Meninggalkan canda tawa dan tingkah lucu Andrea di rumah, tak jarang saya menitikan air mata saat berada di dalam bis menuju Jakarta jika mengingat apa yang kami lakukan saat bersama. Tapi kembali lagi, ini adalah pilihan kami.

 

            Saya berpikir, mumpung  usia masih relatif muda, inilah waktunya bagi saya untuk bekerja keras dan mandiri. Ada hal yang harus dikorbankan tetapi untuk memperjuangkan masa depan yang layak bagi anak saya. Saat masuk di dunia kerja, pada awalanya saya tidak begitu memperhatikan program BPJS Ketenagakerjaan secara serius, saya hanya menganggapnya sebagai syarat atau formalitas saja untuk perusahaan agar berpartisipasi. Dulu, sering saya jengkel karena setiap bulan gaji saya terkena ‘potongan’ untuk iuran BPJS Ketenagakerjaan.

 

“ Kenapa kita kerja capek-capek, masih harus dipotong oleh BPJS? Kita yang kerja, mereka enak tinggal potong” begitu umpatan saya.

 

Waktu itu mindset saya adalah BPJS Ketenagakerjaan ‘memotong’ sebagian dari penghasilan saya untuk asuransi kerja, tetapi saat saya membutuhkan, pencairannya akan ‘dipersulit’. Seperti itu saya berpikir tentang BPJS Ketenagakerjaan. Pada tahun 2014 hingga pertengahan 2016 saya bekerja di departemen purchasing (pengadaan barang), kemudian pada akhir 2016 hingga sekarang saya bekerja di depatemen HRD . Di sini, salah satu job desk saya adalah support program BPJS Ketenagakerjaan. Suatu hari pernah saya mengantar seorang mantan karyawan perusahaan yang hendak ‘mencairkan’ Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun karena resign  sebelum masuk usia pensiun. Ternyata prosesnya sangat sederhana, ketika itu kami mengurus di pagi hari, kemudian di sore hari dananya sudah masuk ke rekening beliau. Semenjak itu mindset saya terhadap BPJS Ketenagakerjaan berubah 180 derajat. Selama ini penghasilan yang saya peroleh bukanlah ‘dipotong’ akan tetapi saya menyisihkan sedikit dari gaji kemudian dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan yang nanti dapat saya nikmati manfaatnya ketika masuk masa pensiun. Ini adalah sebuah investasi yang sangat diperlukan bagi saya, terlebih saya bekerja di perusahaan swasta di mana ketika saya pensiun tidak ada uang pensiun seperti pegawai negeri. Hal ini memberikan ketenangan bagi saya dan menyingkirkan kerisauan akan masa depan Andrea saat saya tidak lagi bekerja di perusahaan.

 

Pengalaman-pengalaman ini telah banyak membuka pikiran saya tentang masa depan. Ketika kelak saya dan istri saya tua, kami harus bisa menjadi bahagia dan membuat anak kami bahagia. Kami menjadi tenang ketika kami akan menghadapi hari tua, karena kami telah berinvestasi dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk masa depan kami. Kebahagian di hari tua ditentukan semenjak kita masih muda dan kebahagiaan di hari tua adalah bahagia saat melihat anak-anak kita memiliki masa depan yang pasti.

 

Kami bertiga.

                                  

Bersama Andrea di prosotan. 

 

Ibu & Andrea bermain ayunan.


                                      
Melalui blog ini saya ucapkan terima kasih BPJS Ketenagakerjaan, kami percayakan masa depan kami. Sukses Selalu.

 


TAGS BPJS Ketenagakerjaan family indonesia tips keluarga investasi opini sosial gaya hidup lifestyle pensiun


Comment
-

Author

Seorang karyawan swasta, ayah, dan suami.

Search

Recent Post